06 May 2013

Makalah : Pengertian Wacana

Pengertian Wacana 
Oleh:
Erato Dido Evandra 

A. Pengertian Wacana
Oka (1994 : 30) Memberi definisi yang pendek dan sederhana bahwa wacana merupakan satuan bahasa yang paling besar. Selain itu wahab (1991 : 128) memberi definisi wacana sebagai organisasi bahasa yang lebih luas dari kalimat atau klausa. Demikian pula Kridalaksana, mendefinisikan wacana adalah satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana merupakan satuan bahasa yang membawa amanat yang lengkap. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh, seperti novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan bahwa wacana merupakan kelas kata benda (nomina) yang mempunyai arti sebagai berikut :
a. Ucapan; perkataan; tuturan;
b. Keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan;
c. Satuan bahasa terlengkap, realisasinya tampak pada bentuk karangan yang utuh, seperti novel, buku, atau artikel.

Pada pengertian ketiga tidak jauh berbeda apabila dibandingkan dengan apa yang tertuang di dalam Kamus Linguistik susunan Harimurti Kridalaksana. Tampak pada batasan tersebut bahwa keutuhan atau kelengkapan makna di dalam sebuah wacana merupakan syarat penting yang harus dimilikinya. Di samping itu secara tegas dinyatakan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap, wujud konkretnya berupa novel, buku, artikel, dan sebagainya.

B. Ciri-ciri wacana
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diperoleh ciri atau karakterisitik sebuah wacana. Ciri-ciri wacana adalah sebagai berikut.
1. Satuan gramatikal
2. Satuan terbesar, tertinggi, atau terlengkap
3. Untaian kalimat-kalimat
4. Memiliki hubungan proposisi
5. Memiliki hubungan kontinuitas, berkesinambungan
6. Memiliki hubungan koherensi
7. Memiliki hubungan kohesi
8. Rekaman kebahasaan utuh dari peristiwa komunikasi
9. Bisa transaksional juga interaksional
10. Medium bisa lisan maupun tulis
11. Sesuai dengan konteks

C. Macam-macam wacana
1. Berdasarkan jenis wacana dapat ditinjau dari media yang digunakan atau tertulis tidaknya :
a. Wacana Lisan

wacana yang disampaikan dengan media lisan, secara lisan.

b. Wacana tulis
wacana yang disampaikan secara tertulis, melalui media tulis.

2. Berdasarkan sifatnya
a. Wacana transaksional (jika yang dipentingkan isi komunikatif)
Contoh : Pidato, Ceramah, Makalah, Cerita, Tesis.

b. Wacana interaksional (jika merupakan komunikasi timbal balik )
Contoh : Percakapan, Debat, Diskusi, Surat-menyurat.

3. Berdasarkan langsung atau tidak langsungnya (Kridalaksana 1984 : 208)
a. Wacana langsung : Kutipan wacana yang sebenarnya dibatasi oleh intonasi atau pungtuasi.
b. Wacana tidak langsung : Pengungkapan kembali wacana tanpa mengutip harfiah kata-kata yang dipakai oleh pembicara dengan mempergunakan konstruksi gramatikal atau kata tertentu, antara lain dengan klausa subordinatif, bahwa.

4. Wacana prosa, puisi, dan drama
a. Wacana Prosa : Wacana yang disampaikan dalam bentuk prosa. Wacana prosa ini dapat tertulis atau lisan, langsung atau tidak langsung.
b. Wacana puisi : Wacana yang disampaikan dalam bentuk puisi baik secra lisan maupun tulis.
c. Wacana Drama : Wacana yang disampaikan dalam bentuk drama, dalam bentuk dialog tertulis maupun lisan. 

5. Dari segi Penutur (Jumlah Penutur)
a. Wacana monolog

Wacana yang melibatkan seorang penutur. Dalam wacana monolog hanya terdapat peran tunggal pada diri pelaksana wacana, yaitu peran penyapa (speaker) dan pesapa (addresse), tanpa ada pergantian dari peran satu ke yang lain.
Contoh : Pidato kenegaraan presiden, Pengumuman resmi pemerintah, dan Ceramah-ceramah tidak diikuti diskusi.

b. Wacana dialog
Wacana dialog melibatkan dua orang penutur, yang secara pergantian atau bergiliran bisa berperan ganda, yaitu sebagai penyapa dan sebagai pesapa.

c. Wacana polilog
Wacana yang melibatkan pelaku wacana lebih dari dua orang. Dalam wacana polilog ini juga terjadi pertukaran informasi karena setiap pelaku pada wacana ini memiliki peran ganda secara bergantian.

6. Berdasarkan cara pemaparannya
a. Wacana naratif

Rangkaian tuturan yang menceritakan atau menyajikan melalui penonjolan tokoh pelaku dengan maksud memperluaspengetahuan pesapa. Kekuatan wacan ini terletak pada urutan cerita berdasarkan waktu dan cara-cara berceritayang diatur melalui plot.

b. Wacana prosedural
Rangkaian tuturan yang melukiskan sesuatu secara beruntun yang tidak boleh dibolak-balik unsurnya, karena urgensi unsur yang lebih dahulu menjadi landasan unsur berikutnya.

c. Wacana hotatori
Tuturan yang isinya bersifat ajakan atau nasihat. Kadang-kadang tuturan itu bersifat memperkuat keputusan agar lebih meyakinkan. Sedangkan tokoh penting didalamnya adalah orang kedua (pesapa).

d. Wacana ekspositori
Rangkaian tuturan yang bersifat memaparkan suatu pokok pikiran dengan cara menyampaikan uraian bagian-bagian taua detailnya. Tujuan pokoknya adalah tercapainya tingkat pemahaman akan sesuatu itu supaya lebih jelas, mendalam, dan luas. Kadang-kadang wacana ini berbentuk ilustrasi, contoh, perbandingan, uraian secara kronologis.

e. Wacana deskripsi
Rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman maupun pengetahuan penuturnya. Tujuan yang ingin dicapai oleh wacana deskripsi adalah tercapainya penghayatan yang agak imajinatif terhadap sesuatu, sehingga pesapa merasakan seolah-olah ia sendiri mengalami atau mengetahuinya secara langsung.

D. Pengertian Analisis Wacana
Analisis wacana digunakan untuk menemukan apa yang benar-benar dimaksudkan orang ketika mereka mengatakan ini atau itu, atau menemukan realitas di balik wacana (Jorgensen & Phillips, 2007)

Analisis wacana mempelajari bahasa dalam pemakaian; semua jenis teks tertulis dan data lisan; dari percakapan sampai dengan bentuk-bentuk percakapan yang sangat melembaga (McCarthy, 1991: 5)

Berdasarkan berbagai definisi yang telah dijelaskan oleh para ahli tentang analisis wacana, terlihat adanya upaya mengaitkan disiplin ilmu lain ke dalam pemaknaan analisis.

Analisis wacana dapat berjalan dengan sempurna jika disokong oleh disiplin ilmu lain, khususnya sosiolinguistik, etnolinguistik, psikolinguistik, dan pragmatik.

E. Referensi
1. http://jaringkarya.blogspot.com/2010/12/pengertian-wacana.html
2. http://beningembun-apriliasya.blogspot.com/2010/10/pengertian-wacana-dan-macam-macamnya.html
3. http://analisis-wacana.livejournal.com/11306.html

Makalah Jurnalistik: Struktur dan Bahasa Berita


Struktur dan Bahasa Berita 
Oleh:
Erato Dido Evandra

A. Pendahuluan
Menulis berita bukan sekedar mencurahkan isi hati. Sebuah berita harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, aktual, dan informatif. Tidak seperti menulis karangan yang mendayu-dayu. Kualitas berita tentu harus memenuhi kriteria umum penulisan, yaitu 5W+1H yang sudah menjadi ‘sego jangan’ (di luar kepala) buat seorang jurnalis. Selain syarat tersebut, sebenarya ada juga syarat yang juga wajib dimengerti oleh seorang jurnalis, yaitu persyaratan bentuk. Dalam jurnalistik syarat bentuk ini lebih sering dikenal dengan sebutan ‘Piramida Terbalik’. Kenapa disebut Piramida Terbalik, karena bentuknya memang mirip dengan piramida mesir namun posisinya terbalik. Maka dari itu makalah kuliah ini secara singkat akan membahas dan menguraikanya.

B. Pembahasan
1. Piramida terbalik
Piramida Terbalik adalah sebuah struktur penulisan atau bentuk penyajian sebuah tulisan yang umum dilakukan seorang wartawan. Kenapa harus menggunakan metode Piramida Terbalik, tentu maksudnya adalah agar pembaca dapat segera mengetahui inti dari berita yang ingin diketahuinya. Apalagi disaat seperti sekarang yang serba cepat. Berita online misalkan, sebaiknya dalam menyampaikan berita langsung ke pokok beritanya. Informasi- informasi penting (inti) disajikan di awal paragraf, selanjutnya informasi pendukung mengikuti paragraf berikutnya.

Berikut Contoh Piramida Terbalik :


Fungsi Judul Berita :
a. Menolong pembaca yang bergegas mengenal kejadian di sekelilingnya.
b. Dengan teknik grafika tipe-tipe huruf, judul berita dapat ditonjolkan sehingga menarik orang untuk membaca.
c. Mengapa bergegas? Karena sifat manusia modern yang serba tergesa sehingga banyak pembaca yang hanya membaca judul berita.

Fungsi Baris Tanggal:
Baris tanggal dimaksudkan untuk menunjukkan kapan berita tersebut di-upload. Artinya, ini menyangkut soal aktualitas. Dengan melihat baris tanggal pembaca segera mengetahui isiannya masih baru atau sudah lama.

Teras Berita: 
Menulis teras berita merupakan bagian yang tersulit. Sebab harus menyajikan fakta penting dan menarik minat pembaca. Karena ingin menonjolkan bagian penting, teras berita bisa juga merupakan ringkasan dari berita.

Sebuah novel atau drama atau hampir semua yang bukan tulisan berita, pada umumnya memulai ceritanya dengan setting cerita atau latar belakang jalannya cerita, kemudian berkembang menuju klimaks. Tetapi, tidak demikian dengan berita, ia menggunakan struktur yang sebaliknya. Berita dimulai dengan ringkasan atau klimaks dalam alinea pembukanya, kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam alinea-alinea berikutnya dengan memberikan rincian cerita secara kronologis atau dalam urutan yang semakin menurun daya tariknya. Alinea-alinea berikutnya yang memuat rincian berita disebut tubuh berita dan kalimat pembuka yang memuat ringkasan berita disebut teras berita atau lead.

Ada alasan praktis mengapa tulisan berita dibuat seperti demikian. Pertama, itu sesuai dengan naluri manusia dalam menyampaikan suatu berita, yaitu agar berita tersebut dapat cepat ditangakap oleh pendengarnya.

Selain itu meringkas berita dalam alinea pembuka juga memiliki beberapa keuntungan praktis diantaranya memungkinkan sebuah surat kabar yang terburu-buru mengambil berita dari kantor berita – misalnya kantor berita antara – bisa hanya mengambil alinea pembukannya, atau lead beritanya tanpa harus menunggu beritanya secara lengkap. Lead ringkasan juga mempermudah pembaca membaca suatu berita, memuaskan rasa ingin tahu pembaca dengan segera. Kemudian mempermudah redaktur membuat judul berita dan memungkinkan petugas bagian tata letak menyusun panjangnya berita ke dalam kolom-kolom halaman suratkabar dengan memotong berita mulai dari bawah.

5w +1h
Dalam struktur piramida terbalik sebuah berita dimulai dengan ringkasan atau klimaks dalam alinea pembukanya, kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam alinea-alinea berikutnya dengan memberikan rincian cerita secara kronologis atau dalam urutan yang semakin menurun daya tariknya. Artinya seorang penulis berita mesti mengetahui hal apa saja yang paling hingga yang kurang penting dan menarik dari sebuah peristiwa. Untuk dapat melacak hal tersebut ada yang dikenal dengan unsur berita yaitu 5W+1H yaitu who (siapa) adalah nama lengkap dari orang-orang yang terlibat dalam sebuah kejadian. Jangan lupa harus tepat ejaan namanya.

Ø what (apa) adalah tentang apa sebuah peristiwa yang terjadi.
Ø when (kapan) adalah waktu terjadinya sebuah peristiwa.
Ø where (dimana) adalah lokasi kejadian tempat terjadinya peristiwa.
Ø why (mengapa) adalah penyebab terjadinya peristiwa tersebut.
Ø how (bagaimana) adalah gambaran terjadinya sebuah peristiwa.

2. Ciri-ciri Bahasa Berita
Terdapat 17 ciri utama bahasa berita yang berlaku untuk semua bentuk media berkala tersebut. yakni sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghindari kata tutur, menghindari kata dan istilah asing, pilihan kata. (diksi) yang tepat, mengutamakan kalimat aktif, sejauh mungkin menghindari pengunaan kata atau istilah-istilah teknis, dan tunduk kepada kaidah etika (Sumadiria, 2005:53-61). Berikut perincian penjelasannya.

a. Sederhana
Sederhana berarti selalu mengutamakan dan memilih kata atau. kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen, baik dilihat dari tingkat intelektualitasnya maupun karakteristik demografis dan psikografisnya. Kata-kata dan kalimat yang rumit, yang hanya dipahami maknanya oleh segelintir orang, tabu digunakan dalam bahasa jurnalistik.

b. Singkat
Singkat berarti langsung kepada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat berharga. Ruangan atau kapling yang tersedia pada kolom-¬kolom halaman surat kabar, tabloid, atau majalah sangat terbatas, sementara isinya banyak dan beraneka ragam. Konsekwensinya apa pun pesan yang akan disampaikan tidak boleh bertentangan dengan filosofi, fungsi, dan karakteristik pers.

c. Padat
Menurut. PatmonoSK, redaktur senior Sinar Harapan dalam buku Teknik Jurnalislik (1996: 45), padat dalam bahasa jurnalistik berarti sarat informasi. Setiap kalimat dan paragrap yang ditulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca. Ini berarti terdapat perbedaan yang tegas antara kalimat singkat dan kalimat padat. Kalinat yang singkat tidak berarti memuat banyak informasi. Sedangkan kaliamat yang padat, kecuali singkat juga mengandung lebih banyak informasi.

d. Lugas
Lugas berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus menghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bisa membingunglian khalayak pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi. Kata yang lugas selalu menekankan pada satu arti serta menghindari kemungkinan adanya penafsiran lain terhadap arti dan makna kata tersebut.

e. Jelas
Jelas berarti mudah ditangkap maksudnya, tidak baur dan kabur. Sebagai contoh, hitam adalah warna yang jelas. Putih adalah warna yang jelas. Ketika kedua warna itu disandingkan, maka terdapat perbedaan yang tegas mana disebut hitam, mana pula yang disebut putih. Pada Kedua warna itu sama sekali tidak ditemukan nuansa warna abu-abu. Perbedaan warna hitam dan putih melahirkan kesan kontras. Jelas di sini mengandung tiga arti: jelas artinya, jelas susunan kata atau kalimatnya sesuai dengan kaidah subjek-objek-predikat- keterangan (SPOK), jelas sasaran atau maksudnya.

f. Jernih
Jernih berarti bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negatif seperti prasangka atau fitnah. Sebagai bahan bandingan, kita hanya dapat menikmati keindahan ikan hias arwana atau oscar hanya pada akuarium dengan air yang jernih bening. Oscar dan arwana tidak akan melahirkan pesona yang luar biasa apabila dimasukkan ke dalam kolam besar di persawahan yang berair keruh.

Dalam pendekatan analisis wacana, kata dan kalimat yang jernih berarti kata dan kalimat yang tidak memiliki agenda tersembunyi di balik pemuatan suatu berita atau laporan kecuali fakta, kebenaran, kepentingan public. Dalam bahasa kiai, jermh berarti bersikap berprasangka baik (husnudzon) dan sejauh mungkin menghindari prasangka buruk (suudzon). Menurut orang komunikasi, jernih berarti senantiasa mengembangkan pola piker positif (positive thinking) dan menolak pola pikir negative (negative thinking). Hanya dengan pola pikir positif kita akan dapat melihat semua fenomena dan persoalan yang terdapat dalam masyarakat dan pemerintah dengan kepala dingin, hati jernih dan dada lapang.

Pers, atau lebih luas lagi media massa, di mana pun tidak diarahkan untuk membenci siapa pun. Pers ditakdirkan untuk menunjukkan sekaligus mengingatkan tentang kejujuran, keadilan, kebenaran, kepentingan rakyat. Tidak pernah ada dan memang tidak boleh ada, misalnya hasutan pers untuk meraih kedudukan atau kekuasaan politik sebagaimana para anggota dan pimpinan partai politik.

g. Menarik
Bahasa jurnalistik harus menarik. Menarik artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca, memicu selera baca, serta membuat orang yang sedang tertidur, terjaga seketika. Bahasa jurnalistik berpijak pada prinsip: menarik, benar, dan baku.

Bahasa ilmiah merujuk pada pedoman: benar dan baku saja. Inilah yang menyebabkan karya-karya ilmiah lebih cepat melahirkan rasa kantuk ketika dibaca daripada memunculkan semangat dan rasa penasaran untuk disimak lebih lama. Bahasa jurnalistik hasil karya wartawan, sementara karya ilmiah hasil karya ilmuwan. Wartawan sering juga disebut seniman.

Bahasa jurnalistik menyapa khalayak pembaca dengan senyuman atau bahkan cubitan sayang, bukan dengan mimik muka tegang atau kepalan tangan dengan pedang. Karena itulah, sekeras apa pun bahasa jurnalistik, ia tidak akan dan tidak boleh membangkitkan kebencian serta permusuhan dari pembaca dan pihak mana pun. Bahasa jurnalistik memang harus provokatif tetapi tetap merujuk kepada pendekatan dan kaidah normatif. Tidak semena-mena, tidak pula bersikap durjana. Perlu ditegaskan salah satu fungsi pers adalah edukatif. Nilai dan nuansa edukatif itu, juga harus tampak pada bahasa jurnalistik pers.

h. Demokratis
Salah satu ciri yang paling menonjol dari bahasa jurnalistik adalah demokratis. Demokratis berarti bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta, atau perbedaan dari pihak yang menyapa dan pihak yang disapa sebagaimana di jumpai dalam gramatika bahasa Sunda dan bahasa Jawa. Bahasa jurnalistik menekankan aspek fungsional dan komunal, sehingga samasekali tidak dikenal pendekatan feudal sebagaimana dijumpai pada masyarakat dalam lingkungan priyayi dan kraton.

Bahasa jurnalistik memperlakukan siapa pun apakah presiden atau tukang becak, bahkan pengemis dan pemulung secara sama.Kalau dalam berita disebutkan presiden mengatakan, maka kata mengatakan tidak bisa atau harus diganti dengan kata bersabda. Presiden dan pengemis keduanya tetap harus ditulis mengatakan. Bahasa jurnalistik menolak pendekatan diskriminatif dalam penulisan berita, laporan, gambar, karikatur, atau teks foto.

Secara ideologis, bahasa jurnalistik melihat setiap individu memiliki kedudukan yang sama di depan hukum schingga orang itu tidak boleh diberi pandangan serta perlakuan yang berbeda. Semuanya sejajar dan sederajat. Hanya menurut perspektif nilai berita (news value) yang membedakan diantara keduanya. Salah satu penyebab utama mengapa bahasa Indonesia dipilih dan ditetapkan sebagai bahasa negara, bahasa pengikat persatuan dan kesatuan bangsa, karena. bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia memang sangat demokratis. Sebagai contoh, prisiden makan, saya makan, pengemis makan, kambing makan.

i. Populis
Populis berarti setiap kata, istilah, atau kalimat apa pun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata, dan di benak pikiran khalayak pembaca, pendengar, atau. pemirsa. Bahasa jurnalistik harus merakyat, artinya diterima dan diakrabi oleh semua lapisan masyarakat. Mulai dari pengamen sampai seorang presiden, para pembantu rumah tangga sampai ibu-ibu pejabat dharma wanita. Kebalikan dari populis adalah elitis. Bahasa yang elitis adalah bahasa yang hanya dimengerti dan dipahami segelintir kecil orang saja, terutama mereka yang berpendidikan dan berkedudukan tinggi.

j. Logis
Logis berarti apa pun yang terdapat dalam kata, istilah, kalimat, atau paragraph jurnalistik harus dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat (common sense). Bahasa jurnalistik harus dapat diterima dan sekaligus mencerminkan nalar. Di sini berlaku hokum logis. Sebagai contoh, apakah logis kalau dalam berita dikatakan: jumlah korban tewas dalam musibah longsor dan banjir banding itu 225 orang namun sampai berita ini diturunkan belum juga melapor.. Jawabannya tentu saja sangat tidak logis, karena mana mungkin korban yang sudah tewas, bisa melapor?

Menurut salah seorang wartawan senior Kompas dalam bukunya yang mengupas masalah kalimat jumalistik, dengan berbekal kemampuan menggunakan logika (silogisme), seorang wartawan akan lebih jeli menangkap suatu keadaan, fakta, persoalan, ataupun pernyataan seorang sumber berita. Ia akan lebih kritis, tidak mudah terkecoh oleh sumber berita yang mengemukakan peryataan atau keterangan dengan motif-mo¬tif tertentu (Dewabrata, 2004:76).

k. Gramatikal
Gramatikal berarti kata, istilah, atau kalimat apa pun yang dipakai dan dipilih dalam bahasa jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku. Bahasa baku artinya bahasa resmi sesuai dengan ketentuan tata bahasa serta pedoman ejaan yang disempurnakan berikut pedoman pembentukan istilah yang menyertainya. Bahasa baku adalah bahasa yang paling besar pengaruhnya dan paling tinggi wibawanya pada suatu bangsa atau kelompok masyarakat. Contoh berikut adalah bahasa jurnalistik nonbaku atau tidak gramatikal: Ia bilang, presiden menyetujui anggaran pendidikan dinaikkan menjadi 15 persen dari total APBN dalam tiga tahun ke depan. Contoh bahasa jumalistik baku atau gramatikal: Ia mengatakan, presiden menyetujui anggaran pendidikan dinaikkan menjadi 25 persen dari total APBN dalam lima tahun ke depan.

l. Menghindari kata tutur
Kata tutur ialah kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari secara informal. Kata tutur ialah kata-kata yang digunakan dalam percakapan di warung kopi, terminal, bus kota, atau di pasar. Setiap orang bebas untuk menggunakan kata atau istilah apa saja sejauh pihak yang diajak bicara memahami maksud dan maknanya. Kata tutur ialah kata yang hanya menekankan pada pengertian, sama sekali tidak memperhatikan masalah struktur dan tata bahasa. Contoh kata-kata tutur: bilang, dilangin, bikin, diksih tahu, mangkanya, sopir, jontor, kelar, semangkin.

m. Menghindari kata dan istilah asing
Berita ditulis untuk dibaca atau didengar. Pembaca atau pendengar harus tahu arti dan makna setiap kata yang dibaca dan didengarnya. Berita atau laporan yang banyak diselipi kata-kata asing, selain tidak informatif dan komunikatif juga membingungkan.

Menurut teori komunikasi, khalayak media massa anonym dan heterogen. tidak saling mengenal dan benar-benar majemuk, terdiri atas berbagai suku bangsa, latar belakang sosial-ekonomi, pendidikan, pekerjaan, profesi dan tempat tinggal. Dalam perspektif teori jurnalistik, memasukkan kata atau istilah asing pada berita yang kita tulis, kita udarakan atau kita tayangkan, sama saja dengan sengaja menyebar banyak duri di tengah jalan. Kecuali menyiksa diri sendiri, juga mencelakakan orang lain.

n. Pilihan kata (diksi) yang tepat
Bahasa jurnalistik sangat menekankan efektivitas. Setiap kalimat yang disusun tidak hanya harus produktif tetapi juga tidak boleh keluar dari asas efektifitas. Artinya setiap kata yang dipilih, memang tepat dan akurat sesuai dengan tujuan pesan pokok yang ingin disampaikan kepada khlayak. Pilihan kata atau diksi, dalam bahasa jurnalistik, tidak sekadar hadir sebagai varian dalam gaya, tetapi juga sebagai suatu keputusan yang didasarkan kepada pertimbangan matang untuk mencapai efek optimal terhadap khalayak.

Pilihan kata atau diksi yang tidak tepat dalam setiap kata jurnalistik, bisa menimbulkan akibat fatal. Seperti ditegaskan seorang pakar bahasa terkemuka, pengertian pilihan kata atau diksi jauh lebih luas dari apa yang dipantulkan oleh jalinan kata itu. Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan kata-kata mana yang dipakai untuk mengungkapkan suatu ide atau gagasan, tetapi juga meliputi persoalan fraseologi, gaya bahasa, dan ungkapan. Fraseologi mencakup persoalan kata-kata dalam pengelompokan atau susunannya, atau yang menyangkut cara-cara yang khusus berbentuk ungkapan-ungkapan. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi bertalian dengan ungkapan-ungkapan yang individual atau karakteristik, atau yang memiliki nilai arstistik yang tinggi (Keraf, 2004:22-23).

o. Mengutamakan kalimat aktif
Kalimat akiff lebih mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca daripada kalimat pasif. Sebagai contoh presiden mengatakan, bukan dikatakan oleh presided.Contoh lain, pencuri mengambil perhiasan dari dalam almari pakaian, dan bukan diambilnya perhiasan itu dari dalam almari pakaian oleh pencuri. Bahasa jurnalistik harus.jelas susunan katanya, dan kuat maknanya (clear and strong). Kalimat aktif lebih memudahkan pengertian dan memperjelas pemahaman. Kalimat pasif sering menyesatkan pengertian dan mengaburkan pemahaman.

p. Menghindari kata atau istilah teknis
Karena ditujukan untuk umum, maka bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami, ringan dibaca, tidak membuat kening berkerut apalagi sampai membuat kepala berdenyut. Salah satu cara untuk itu ialah dengan menghindari penggunaan kata atau istilah-istilah teknis. Bagaimanapun kata atau istilah teknis hanya berlaku untuk kelompok atau komunitas tertentu yang relatif homogen. Realitas yang homogen, menurut perspektif filsafat bahasa tidak boleh dibawa ke dalam realitas yang heterogen. Kecuali tidak efelitf, juga mengandung unsur pemerkosaan.

Sebagai contoh, berbagai istilah teknis dalam dunia kedokteran, atau berbagai istilah teknis dalam dunia mikrobiologi, tidak akan bisa dipahami maksudnya oleh khalayak pembaca apabila dipaksakan untuk dimuat dalam berita, laporan, atau tulisan pers. Supaya mudah dicerna dan mudah dipahami maksudnya, maka istilah-istilah teknis itu harus diganti dengan istilah yang bisa dipahami oleh masyarakat umum. Kalaupun tak terhindarkan, maka istilah teknis itu harus disertai penjelasan dan ditempatkan dalam tanda kerung.
Surat kabar, tabloid, atau majalah yang lebih banyak memuat kata atau istilah teknis, mencerminkan media itu : (1) kurang melakukaii pembinaan dan pelatihan terhadap wartawannya yang malas, (2) tidak memiliki editor bahasa, (3) tidak memiliki buku panduan peliputan dan penulisan berita serta laporan, atau (4) tidak memiliki sikap profesional. dalam mengelola penerbitan pers yang berkualitas.

q. Tunduk kepada kaidah etika
Salah satu fungsi utama pers adalah edukasi, mendidik (to educated), Fungsi ini bukan saja harus, tercermin pada materi isi berita, laporan, gambar, dan artikel-aritikelnya, melainkan juga harus tampak pada bahasanya. Pada bahasa tersimpul etika. Bahasa tidak saja mencerminkan pikiran tapi sekaligus juga menunjukkan etika orang itu.

Dalam menjalankan fungsinya mendidik khalayak, pers wajib menggunakan serta tunduk kepada kaidah dan etika bahasa baku. Bahasa pers harus baku, benar, dan baik. Dalam etika berbahasa, pers tidak boleh menuliskan kata-kata yang tidak sopan, vulgar, sumpah serapah, hujatan dan makian yang sangat jauh dari norma sosial budaya agama. Pers juga tidak boleh menggunakan kata-kata porno dan berselera rendah lainnya dengan maksud untuk membangkitkan asosiasi serta fantasi seksual khalayak pembaca.
Pers berkualitas senantiasa menjaga reputasi dan wibawa martabatnya di mata masyarakat, antara lain dengan senantiasa menghindari penggunaan kata-kata atau istilah yang dapat diasumsikan tidak sopan, vulgar, atau mengumbar selera rendah. Kata-kata vulgar, kata-kata yang menjurus pornografi, biasanya lebih banyak ditemukan pada pers popular lapis bawah dan pers kuning (Sumadiria,2005: 53-61).


C. Simpulan
1. Penulisan dengan metode Piramida Terbalik banyak manfaatnya, baik dari sisi pembaca, wartawan, redaktur maupun media itu sendiri. Bagi pembaca yang memiliki waktu terbatas dapat membaca di paragraf-paragraf awal saja, namun sudah dapat menangkap keseluruhan maksud dari berita yang dibacanya.

2. Terdapat 17 ciri utama bahasa berita yang berlaku untuk semua bentuk media berkala tersebut. yakni sederhana, singkat, padat, lugas, jelas, jernih, menarik, demokratis, populis, logis, gramatikal, menghindari kata tutur, menghindari kata dan istilah asing, pilihan kata. (diksi) yang tepat, mengutamakan kalimat aktif, sejauh mungkin menghindari pengunaan kata atau istilah-istilah teknis, dan tunduk kepada kaidah etika

D. Daftar Pustaka
Hikmat dan Purnama, K. 2005. Jurnalistik : Teori dan Praktik. Bandung : Remaja Rosdakarya
Muhamad Rohmadi. 2011. Jurnalistik Media Cetak. Surakarta : Cakrawala Media
Asep Syamsul M. Dan Romli, S. IP. 2009. Jurnalistik Praktis Untuk Pemula. Bandung : PT Remaja
          Rosdakarya

Website/ Blog
1. http://gosrok.blogspot.com/2011/08/piramida-terbalik-dalam-penulisan.html
2. http://www.denbagus.com/metode-penulisan-bentuk-piramida-terbalik/
3. http://kangarul.wordpress.com/2009/07/31/ciri-utama-bahasa-jurnalistik/

Opini : Potret Mahasiswa Era Sekarang


Oleh
Erato Dido Evanda

“Jadilah mahasiswa yang tidak melupakan hal terpenting dari kuliah dan perjuangan pemuda dimasa silam. Ingat kita (Pemuda/ Mahasiswa) telah bersatu dalam tekad memajukan bangsa dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928!.”

Pemuda-pemudi di era sekarang merupakan sosok harapan dan sosok yang kelak menggantikan generasi yang sekarang berkuasa dinegeri ini. Para mahasiswa sesungguhnya adalah wajah Indonesia dimasa depan.
Melihat kinerja para penguasa di negeri ini rasanya masyarakatpun sudah mulai jenuh, sudah mulai bosan, bahkan kalau ada sebuah kejaiban ingin rasanya semua para pejabat/ menteri yang berkuasa digenerasi sekarang digantikan dengan generasi baru yang lebih bermoral. Tapi apakah generasi muda diera sekarang sudah siap untuk menggantikannya?. Jika potret para calon penerus bangsa itu menjadikan kuliah hanya sebagai ajang nongkrong semata.
Status sebagai mahasiswa di era sekarang hanyalah sebuah formalitas pergaulan. Rasa malu telah melanda para pemuda-pemudi bangsa ini jika tidak melanjutkan kuliah. Sesungguhnya rasa malu bila tidak kuliah merupakan hal yang bagus, tapi seharusnya di imbangi/ di sertai dengan malu jika tidak mendapat prestasi dalam perkuliahan. Nyatanya kuliah hanya sebagai ajang bergaya bukan mencari ilmu.
Banyak perguruan tinggi yang menawarkan berbagai macam fasilitas, sebuah fasilitas yang begitu memanjakan para pemuda-pemudi untuk nongkrong, seperti ; area hotspot, cafe, dsb. Yang justru fasilitas tersebut menjadikan tempat nongkrong atau sekedar cuci mata mencari pasangan.
Fasilitas memang tidak bisa dipersalahkan, karena memang tujuan utama dari fasilitas adalah menunjang proses pendidikan/ perkuliahan para mahasiswa. Sebenarnya kesalahan tersebut muncul dari perilaku mahasiswa itu sendiri, karena fasilitas itu justru dijadikan sarana untuk menghibur atau memanjakan diri mereka, sedangkan tugas kuliah hanya dijadikan sebuah beban semata, bahkan kita tidak pernah berfikir apa yang kelak kita berikan kepada bangsa kita.
Lalu sudahkah pantas para mahasiswa era sekarang menggantikan para penguasa generasi sekarang yang sudah tidak dipercaya masyarakat? Pertanyaan tersebut menjadi beban kita “pemuda/ mahasiswa” untuk menjawabnya.
Sebagai mahasiswa seharusnya kita tidak melupakan esensi dari kuliah itu sendiri. Jadikan perguruan tinggi menjadi tempat untuk menambah kekreatifan kita, kecerdasan kita, serta menjadikan mahasiswa yang bermoral baik yang siap menggantikan penguasa sekarang yang sudah  tak bermoral.

Guru Bahasa Indonesia Perlu Belajar Sastra




Tidak kurang dari 100 mahasiswa dan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP dan SMA di Magelang Jawa Tengah mengikuti workshop sastra di Aula Dinas Pendidikan Kota Magelang, Sabtu (4/5/2013).

Dalam workshop tersebut mereka diberi pelatihan bagaimana membuat puisi, cerita pendek (cerpen), dan karya sastra lainnya, oleh narsumber-narasumber yang berkompeten, antara lain cerpenis sekaligus redaktur majalah sastra Horison, Joni Ariadinata serta penulis puisi yang juga sutradara Teater Garasi Yogyakarta Gunawan Maryanto.

Di samping kegiatan pelatihan, pada kesempatan tersebut juga ada peluncuran buku kumpulan cerita anak berjudul "Tepukan Tiga Kali" karya seorang sastrawati Magelang bernama Wicahyanti Rejeki. Wicahyanti sendiri adalah seorang guru Bahasa Indonesia di SMP Kristen 1 Kota Magelang yang sangat peduli terhadap sastra di Indonesia khususnya bagi guru-guru Bahasa Indonesia.

Menurut Wicah, sapaan akrabnya, kegiatan ini tidak lain untuk menambah pengetahuan dan kemampuan para mahasiswa dan guru Bahasa Indonesia tentang sastra. Seperti diketahui, bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia tidak selalu tentang teori-teori tata bahasa saja, namun perlu juga aplikasi ke dalam karya sastra.

"Setiap orang mampu menciptakan karya sastra, entah itu puisi, cerpen, novel dan lain sebagainya. Apalagi bagi para guru Bahasa Indonesia, walaupun tetap butuh proses belajar," katanya.

Diharapkan, melalui workshop yang mengusung tema "Sastra Sebagai Wahana Alternatif Berkreasi" ini para mahasiswa dan guru mempunyai semangat untuk menulis. Sehingga bisa menjadi contoh kepada anak-anak didik mereka.

"Jangan sampai guru menyuruh murid membuat puisi tapi guru-nya sendiri tidak bisa," harapnya. Ditambahkan ibu dua putra ini, karya-karya yang peserta telah buat pada pelatihan itu nantinya akan dikumpulkan menjadi sebuah buku.

sumber : KOMPAS.com

Puisi : Aku hidup dengan termanjakan alam (Mimpi)


Oleh :
Erato Dido Evandra

Aku hidup dengan termanjakan alam
Air begitu jernih, menyejukan tenggorokanku
Padi tumbuh lebat dan subur, mengenyangkan perutku
Pohon-pohon tumbuh rindang, menyejukan kehidupanku

Dan akupun hidup kaya di negeriku
Kaya akan segala karya Esa
Semua ada, apapun itu....
Air jernih berlimpah
Kemaraupun tak pernah menyapa negeriku
Betapa bahagianya aku dan jiwa-jiwa dinegeriku
Semua hidup kaya dan bahagia

Kota-kota dinegriku begitu bersih
Kota-kota dinegriku begitu teratur
Kota-kota dinegeriku begitu ramah
Kota-kota dinegeriku begitu baik
Bagi siapapun yang hidup didalamnya
Semua hidup sehat, makmur dan bahagia
Tidak ada manusia yang terlantar semua berada

Alam tak pernah mengusik kami
Alam selalu memberi tanpa batas
Alam tak pernah letih memberikan kebahagiaan
Alam tak pernah membuat terluka ataupun menangis
Karena kami bersahabat dengan alam,
Karena kami baik kepada alam,
Juga baik kepada semua jiwa dinegeriku
Semua bersahabat dan berdampingan.

Oh.... ternyata itu semua hanya mimpi,
Ternyata semua itu hanya mawar dalam lelapku
Semua hanya angan disetiap jiwa yang menangis
Semua mimpi bagi jiwa yang terlantar

Karena dari semua yang kupandang, jauh dari angan indah
Semua gelap tanpa ada setetes jernih kebahagiaan

Manusia dihinggapi nafsu keserakahan
Manusia dihinggapi iblis yang menyesatkan
Pohon yang tumbuh lebat nyaris lenyap termakan gergaji,
Air terminum pabrik yang haus keserakahan,
Menjadikanya keruh dan kumuh
Udara yang menyelimuti kota-kota kami begitu kotor,
Asap-asap pabrik kian bernafsu memayungi kota,
Hingga menyesakkan paruku.

Banyak yang terluka
Banyak yang menangis
Atau bahkan banyak pula jiwa yang berpulang
Karena keserakahan manusia itu sendiri.


Alam tak lagi bersahabat,
Alam sangat membenci kami,
Membanjiri kota kami,
Membakar kota kami,
Melenyapkan mimpi-mimpi kami,

Terik mentari tak lagi sehangat dulu,
Tapi semakin membakar kulit kami.

Haruskah kita masih tak sadar diri?
Mari kita bangun kembali apa yang telah rusak!
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,
Lihatlah yang ada disekitarmu!

Bangun para manusia serakah!